23 Januari 2015

Tariq Ramadan: Lihatlah Penyerangan Paris dari "Potret Besarnya"

Terjemahan Wawancara Aljazeera English dengan Tariq Ramadan: Double Standard of Freedom of Expression

Pada hari Kamis, 8 Januari 2015, satu hari setelah peristiwa penyerangan kantor majalah mingguan satir Charlie Hebdo di Paris, stasiun televisi Aljazeera English mewawancarai Professor Tariq Ramadan tentang dampak setelah serangan tersebut. Wawancara ini diterjemahkan oleh kontributor Jurnal Kultural, Muh Ihsan Harahap, yang juga adalah Pengurus KAMMI Komisariat Universitas Hasanuddin, Makassar. 

18 Januari 2015

Mengapa KAMMI Tidak Punya Sastrawan?

oleh: Ahmad Rizky MU.
Peneliti, dan Penikmat Cerpen-Cerpen Kuntowijoyo

Kresna Duta
Dalam sebuah perbincangan di sela-sela Sarasehan KAMMI di Jakarta, 2 tahun silam, ada satu tema yang sempat saya dan beberapa orang perbincangkan: soal budaya. Obrolan sederhana saja: bagaimana kalau KAMMI menggagas semacam wadah kebudayaan, yang bisa menjadi wadah berkarya bagi kader-kadernya yang punya minat di bidang sastra, seni, dan kebudayaan kontemporer. Iseng-iseng digagaslah satu nama: LEKMI, Lembaga Kebudayaan KAMMI. Walaupun selama ini aktivitasnya baru sebatas bergerak menerbitkan hasil-hasil karya di Jurnal Kultural.

Harus diakui, selama belasan tahun hidup di Indonesia, tema-tema soal sastra, kesenian, dan secara lebih luas kebudayaan absen dalam ruang-gerak KAMMI. Hal ini tidak mengherankan. Di dalam Filosofi Gerakan, wa bil khusus Filosofi Gerakan KAMMI yang tercantum di GBHO, tak sekalipun tema kebudayaan disinggung. Yang dominan adalah KAMMI sebagai Gerakan Politik. Isinya adalah hubungan KAMMI dengan partai politik, LSM, negara, dan elemen politik lain. Tak ada disinggung hubungan KAMMI dengan Dewan Kesenian Daerah, para Sastrawan, atau komunitas penyanyi dangdut di masing-masing kampung.

Saya bisa memahami kalau elemen-elemen yang saya sebut di atas absen dalam jati diri KAMMI. Dalam proses kesejarahan organisasi ini, KAMMI memang men-tanfidz-kan diri sebagai gerakan mahasiswa yang bergerak secara politis. Hal ini tercermin dari jargon "Muslim Negarawan" yang jadi orientasi perkaderan KAMMI. Mungkin (sekali lagi mungkin) karena orientasi ini, kader-kader KAMMI dilatih untuk menjadi kader-kader pemimpin yang siap mengakses negara ketika mereka siap. Mungkin, menjadi sastrawan tidak cukup bonafid untuk disebut sebagai "negarawan" (lihat artikel menarik dari Gading EA soal Muslim Negarawan ini).

17 Januari 2015

Titik Rawan Muslim Negarawan: Sebuah Kritik


oleh: Gading EA
Staf Kebijakan Publik PD KAMMI Surabaya [1]

Kader KAMMI generasi sekarang pasti mengetahui istilah “Muslim Negarawan”. Minimal pernah melihatnya tercetak gagah di punggung jaket aktivis. Namun, banyak yang belum tahu kalau Muslim Negarawan bukanlah konsep yang sudah eksis sejak KAMMI berdiri. Ia merupakan jawaban atas kegelisahan, pengalaman, dan pergulatan pemikiran para ideolog KAMMI setelah tujuh tahun sejak dideklarasikan.

Konsep Muslim Negarawan ‘ditemukan’ dalam Lokakarya Nasional Kaderisasi KAMMI di Sukabumi pada tanggal 29 Desember 2005 s.d 1 Januari 2006[2]. Forum lokakarya tersebut lah yang melahirkan rumusan Manhaj Kaderisasi 1427 H dimana Muslim Negarawan ditetapkan sebagai outcomes pengkaderan KAMMI[3].

Dalam manhaj terbaru, Manhaj Kaderisasi 1433 H, pun tidak ada perubahan signifikan selain detail-detail pengkaderan. Orientasi dasarnya masih tetap, yakni melahirkan kader yang memiliki karakter Muslim Negarawan[4]. Sampai sekarang belum ada konsep yang mampu menggeser Muslim Negarawan dalam diskursus pengkaderan KAMMI.

Pertanyaannya, apakah Muslim Negarawan akan selamanya menjadi orientasi pengkaderan KAMMI?

10 Januari 2015

Apa Artinya Insiden Charlie Hebdo bagi Islam dan Politik Global?

Ahmad Rizky M. Umar
Peneliti dan Aktivis

Tragedi Charlie Hebdo segera menjadi perdebatan publik. Beberapa cendekiawan muslim seperti Tariq Ramadan, Farish Noor, atau Yasir Qady segera mengecam penembakan, namun ada satu hal yang perlu dicermati: apa yang dilakukan oleh Charlie Hebdo dalam beberapa satirnya juga tak bisa diterima. Keduanya, baik penembakan atau kartun satir yang jelas-jelas menghina simbol-simbol identitas Islam, sama-sama keliru dan fatal. 

Tapi mari kita berpikir lebih ke depan. Apa dampak insiden ini bagi tatanan politik global ke depan? Apakah penembakan ini sebentuk 'sinyalemen' pertentangan yang lebih keras antara 'Islam' dan 'Barat'? Apakah bakal ada gelombang baru 'Islamofobia' terutama di negara-negara Eropa? Ataukah  ini sebetulnya sinyal pengaturan keimigrasian yang lebih ketat di negara Barat?

8 Januari 2015

Islam dan Pancasila: Sebuah Paradigma Baru

oleh: Abdul Jabbar
Ketua Umum KAMMI Kalimantan Barat

Prolog
Ideologi merupakan gagasan dasar dari sebuah komunitas bangsa berdasarkan pandangan hidup dan pengalaman empiriknya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak dapat disangkal bahwa setiap bangsa dan negara harus memiliki dan mengembangkan sebuah ideologi. Rapuh serta tegarnya bangsa dan negara amat ditentukan oleh kekuatan sebuah ideologi dalam menghadapi tantangan dan ujiannya. Tantangan dan ujian tersebut, menurut Alfian (2000) meliputi 3 dimensi yaitu dimensi idealitas, realitas dan fleksibilitas. Demikian pula halnya dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Mendialogkan Pancasila merupakan suatu keniscayaan, tidak hanya pada spektrum filosofis namun juga pada tataran teknis. Bahkan dengan prinsip bahwa Pancasila sebagai ideologi terbuka telah membuat diskusi yang tidak ada habisnya. Buya Hamka misalnya, yang mengkritik Sukarno atas tafsir beliau yang menyatakan bahwa perasan Pancasila itu akan menjadi satu prinsip saja, yaitu “Gotong Royong”. Sebagai balasan, Buya Hamka malah berpendapat bahwa Pancasila tidak perlu diperas namun cukup dicari akar tunggangnya yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Tulisan ini tidak bermaksud hadir diantara perdebatan tokoh-tokoh tersebut, akan tetapi diharapkan dapat menjadi perspektif baru dalam memahami Pancasila sebagai ideologi bangsa kita. Di sini, Pancasila diletakkan sebagai dasar untuk memahami periodisasi penegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sehingga Indonesia bisa berada dalam wujudnya yang paripurna, menyatu ke dalam dasar-dasar normatif Pancasila tersebut.

7 Januari 2015

'Muslim Barat' dan Tragedi Penembakan di Paris: Terjemahan Wawancara dengan Tariq Ramadan

Pengantar Editor
Hari ini dunia dihentakkan oleh satu tragedi: penembakan kantor kartunis Charlie Hebdo dan beberapa orang lain di  kantornya di Paris, Perancis. Tragedi ini jelas menandai babak baru hubungan antara 'Islam' dan peradaban 'Barat'. Selama ini, hubungan antara 'Muslim' dan Masyarakat Barat yang telah renggang sejak tragedi 9/11 bisa jadi kembali merenggang akibat perbuatan tidak bertanggung jawab ini. Padahal, problem paling mendasar dari penembakan tersebut bukanlah agama, karena Islam sendiri tidak menganjurkan untuk melakukan kekerasan terhadap orang yang tak bersalah kecuali dalam hukum dan otoritas yang sah, melainkan problem-problem yang lebih bersifat 'imanen': ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi antara 'Eropa' dan 'Dunia Timur', misalnya, yang kemudian berimplikasi pada masalah-masalah keimigrasian di Eropa. 

Dalam bukunya, Western Muslims and The Future of Islam (Oxford University Press, 2004), Tariq Ramadan telah mendorong umat Islam di Eropa agar tidak lagi meliyankan diri, dengan menganggap orang-orang 'Barat' sebagai The Other -dan dengan demikian mengekslusi diri dari pergaulan masyarakat. Tariq berangkat dari konsep islah (perbaikan, reform) yang menurutnya mendasar pada pengenalan diri seorang Muslim, dan inilah tujuan dan tugas-tugas seorang Muslim pada umumnya. Konsep ini juga dikenal dalam tradisi Ikhwan, islah an-nafs, sesuatu yang fondasional dalam proses perubahan sosial yang dicita-citakan oleh Hasan al-Banna. Bagi Tariq, gerakan-gerakan perbaikan memerlukan revolusi intelektual yang menjadikan diri seorang Muslim bisa berbicara sejajar dengan masyarakat Barat, dan di saat yang bersamaan membunuh 'inferiority complex' yang selama ini muncul ketika seorang Muslim berhadapan dengan masyarakat Barat. Menurut Tariq, dengan keterlibatan  di dunia pendidikan, pembangunan sosial, dialog-dialog antar-agama, seorang Muslim akan bisa dengan percaya diri menghilangkan perasaan menjadi The Other di dalam konteks masyarakat di mana ia menjadi minoritas, dan percaya bahwa semua manusia, dari manapun ia berasal adalah sejajar. Dengan cara inilah seorang 'Muslim Barat' tidak lagi menjadi liyan bagi masyarakat Barat di mana ia tinggal.

Berlangganan