4 Juli 2015

Menimbang Gerakan Berbasis Komunitas

Gading EA
Penulis buku "Menjaga Nafas Gerakan", Pegiat Pusat Studi Globalisasi dan Gerakan (PUSGLORA) Surabaya

“Mahasiswa ke mana?” Itulah pertanyaan yang terlontar dari beberapa kalangan terkait aktivitas pergerakan mahasiswa era sekarang yang dianggap tidak lagi mewadahi aspirasi masyarakat. Apakah dugaan bahwa pergerakan mahasiswa sedang lesu itu benar? Atau sebenarnya gerakan mahasiswa sedang bertransformasi ke bentuk yang lain? Jika memang telah bertransformasi, apakah itu akan menjadi pola gerakan baru yang bertahan dalam waktu panjang, atau hanya tren sesaat yang akan padam dalam waktu dekat?

Beberapa bulan belakang, Pusat Studi Globalisasi dan Gerakan (PUSGLORA) memiliki concern untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas. Selain melakukan diskusi secara internal, kami juga telah berdialog dengan beberapa pihak eksternal, baik bertemu secara langsung maupun via media sosial (chatting). Kesimpulan yang bisa kami ambil sejauh ini adalah, mulai maraknya gerakan-gerakan sosial berbasis komunitas yang mulai menggeser minat aktivis mahasiswa untuk berkiprah di organisasi formal–intra kampus maupun ekstra kampus.

2 Juli 2015

Setiap Hari adalah Ramadan, Setiap Malam adalah Lailatul Qadar

Ahmad Rizky M. Umar

Ramadhan adalah bulan pelatihan. Setidaknya, itulah yang sering dicerasa-dmahkan oleh para Khatib dan penceramah di berbagai Mesjid di Bulan Ramadhan ini. Rasulullah bersabda, man shaama Ramadhaana imaanan wahtisaban ghufiralahu maa taqaddama min dzanbihi. Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh perhitungan, diampuni oleh Allah dosa-dosa sebelumnya.

Maka, berlomba-lombalah kita untuk berpuasa di bulan Ramadhan, disertai dengan ibadah-ibadah yang menjadi ‘tradisi’ di bulan ini: tadarrus, i’tikaf, dan berbagai amal ibadah lain.

Tetapi bayangkanlah jika semua bulan adalah Ramadhan. Dan setiap malam adalah Lailatul Qadar. Mungkinkah kita beribadah?

Pertanyaan saya mungkin sedikit sufistik, tetapi memberikan sebuah refleksi: jika kita jadikan Ramadhan sebagai bulan untuk melatih diri, menahan diri dari segala macam hawa nafsu,mungkin ibadah kita tidak lagi dimaknai sebatas ritus. Karena setiap harinya adalah Ramadhan, dan setiap malamnya adalah Lailatul Qadar.

29 Juni 2015

[PUISI] Advokasi Rindu

Faqih Al-Haq

hari ini kerinduan dituntut mati
rakyat  berontak
keadilan macam apa ini menuntut sebuah rasa
menghitung hari mendekam dalam senyap asosial
tiada sapa senyum apalagi salam

surat panggilan itu datang beberapa jam yang lalu
masih hangat - hangat dendam dan baunya penuh kecurigaan
ruangan sempit tembok tebal putih - putih sok suci cat baru

aparat keparat itu tidak tahu bahwa rindu itu kebal ponderitaan
bakar mataku panggang punggungku niscaya masih ada aku

dendang dentum hujan mengiringi lagu - lagu pertemuan dan perpisahan
di situlah rindu lahir mengerang menangis keluar dari peraduan
lama - lama ia besar membesar membunuh takut kesan kasih malu dan kesakitan
masih banyak korban, namun nisan kuburan tidak mampu menampung nama - nama rasa

itulah kisah di balik peradilan kerinduan
aku disewanya membela di depan hakim hukum jaksa penuntut umum
mati mati mati mati mati mati, enam kali mati didakwakan untuk kerinduan
entah, kerinduan hanya mengulum - ulum senyum

yang kutahu, kerinduan adalah rasa yang paling mewah dan kaya
setiap kalimatnya pasti ada rasa lain  yang memperjuangkan untuknya
semakin sakit dan semakin tua, rasa - rasa lain akan semakin memperhatikannya
tidak tahu mereka akan dibunuh satu per satunya

dan kali ini
saat hakim berteriak, tanpa eksepsi !
kerinduan pucat pasi
menengok kanan dan ke kiri
mencari - cari aku sang jati diri
batuk - batuk menahan diri pada kursi
sambil berteriak berkelakar membela - bela diri

ah, kali ini aku salah lagi
ini kerinduan yang salah alamat
tugas advokat bukan membela terdakwa
tapi memastikan agar hukum tidak semena - mena
kali ini tugasku selesai...

aku keluar gedung pengadilan diri
di depannya taman kota taman peraduan pada tuhan sungguh indah
hari ini adalah hari kerinduan
kerinduan - kerinduan berkumpul menjadi satu dalam irama yang indah
memuji pemilik rasa dan segalanya

oh, Tuhan !
Pemiilik rasa
Penumbuh kembang  cinta
Penanam bibit takut
Penepis sangka ragu
Penyuluh bara berani
Pemadam suluh dendam

Ah seharusnya, itulah alamat kerinduan.

kota - kota jalanan jawa,


2011,
dalam dekap gundah gulana.

27 Mei 2015

Mahasiswa dan Buku


Artikel ini sebelumnya dimuat di situs Rumah Buku Simpul Semarang. Dimuat kembali di Jurnal KAMMI Kultural atas seizin penulisnya untuk keperluan pendidikan. Lihat http://www.simpulsemarang.com/ 

oleh: Edi Subkhan
Dosen Universitas Negeri Semarang

Saya hampir selalu membandingkan apa yang saya lakukan dulu ketika masih mahasiswa unyu-unyu bin culun pas S1 dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa jaman sekarang. Bisa jadi ini sebuah kelemahan, karena tentu tidak fair membandingkan jaman dulu dan jaman sekarang yang berbeda kecanggihan teknologi dan perubahan budayanya. Tapi ya sebagai manusia biasa tentu saya tidak bisa lepas dari menilai sesuai berdasarkan pemahaman saya atas pengalaman hidup dulu.

Hal yang saya lihat sekarang ini—walau tentu subjektif—adalah: menurunnya minat beli dan baca mahasiswa terhadap buku. Mengenai tuduhan saya ini beberapa kawan berpendapat bahwa sejatinya sejak dulu persentase mahasiswa yang minat buku juga tidak banyak. Mahasiswa yang selalu up date buku, membeli buku, membaca dan mendiskusikan buku konon dari waktu ke waktu memang tidak banyak. Bahkan di kampus seperti Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara pun, mahasiswa yang serius dan bergairah dengan filsafat juga minoritas. Setidaknya hal ini berdasarkan pada curhat dan penghilatan saya ketika sering dolan ke STF Driyarkara semasa saya masih kuliah (S2) di Jakarta dulu (2008-2012).


Kalau hal tersebut benar, maka “kutukan” bahwa para pionir perubahan, cerdik cendekia, dan pemimpin sejati merupakan komunitas elite benar adanya. Di antara 100% mahasiswa paling tidak lebih dari 5% yang benar-benar minat dalam aktivitas akademik dan intelektual, paling tidak lebih dari 5% juga yang berjiwa pemimpin dan bervisi jauh untuk perubahan sosial. Inilah kurva normal mahasiswa yang setidaknya masih tetap proporsinya dari dulu sampai sekarang, yaitu sebagian besar diisi oleh mahasiswa biasa-biasa saja dan sebagian sedikit diisi oleh mahasiswa tidak biasa-biasa saja. Mahasiswa yang tidak biasa-biasa saja inilah yang dapat dipilah menjadi “baik sekali” dan “tidak baik sekali”, dari para aktivitas, intelektual, hingga mahasiswa yang tidak tahu tujuan hidup dan bingung siapa dirinya sendiri.

26 Mei 2015

Melawan Pembodohan! Sebuah Cerita dari Moro-Moro

Oleh: Dharma Setyawan
Peneliti Sai Wawai Institute Kota Metro dan Komunitas Cangkir Kamisan,
Pegiat Forum Diskusi Kultural Lampung

Sedih sekali saya mendengar kawan-kawan SD Moro-Dewe mulai minggu depan harus bersekolah di sekolah induk yang jaraknya 20 kilo meter. Induknya yang lama masih di Tulang Bawang Barat, seluruh usaha telah dilakukan, advokasi lewat KOMNAS HAM, membuat film kampanye, demonstrasi. Dukungan media lokal, nasional bahkan asing belum juga mengubah keputusan Bupati. Saya mendapat kabar, inilah pilihan terbaik yang dapat ditempuh karena anak-anak akan segera ujian, kalau mereka tidak mengambil langkah ini, mereka tak bisa naik kelas. Masyarakat patungan untuk menyewa mobil Truk mengantar jemput anak-anak tersebut sekolah” 

Kata-kata di atas adalah pesan yang muncul dari seorang kawan—sengaja disamarkan namanya—di group Komunitas Cangkir Kamisan yang mengabarkan berita duka pendidikan di kawasan Moro-Moro Mesuji. Penulis cukup memahami kesedihan kawan tersebut. Beliau kami ketahui sebagai orang yang lama hidup membersamai masyarakat yang tidak kunjung usai dihantam badai kekuasaan yang pongah. Sejak  masih menempuh kuliah sarjana politik semester akhir di Lampung, beliau memilih datang sendirian di daerah konflik tanah yang telah banyak memakan korban tersebut. 

Terhitung 11 Tahun Beliau terus berjuang bukan hanya soal membantu mengadvokasi tanah warga tapi juga hak politik, membersamai hidup bersama warga, mendampingi mereka untuk solid berorganisasi dan sampai dirinya menempuh Doktor, tetap setia berkunjung ke Moro-Moro, sebuah entitas masyarakat yang tidak ada hubungan darah sedikitpun.

24 Mei 2015

Dari Redaksi

Forum Diskusi KAMMI Kultural adalah forum yang diinisiasi oleh beberapa orang kader KAMMI (dan sekarang beberapa sudah menjadi alumni) sebagai wadah untuk mengembangkan nuansa intelektualitas di dunia gerakan. Forumnya cair, siapapun yang ingin berdiskusi bisa hadir dan ikut mendiskusikan tema-tema yang dibahas/menulis. 

Oleh sebab itu, Forum Diskusi KAMMI Kultural tidak pernah menyelenggarakan Training/Daurah/Pelatihan dalam bentuk apapun. Semua aktivitas mengenai kami bisa dibaca di website ini.  Kami tetap berpijak pada nalar intelektual profetik yang diusung oleh KAMMI dan tidak berminat untuk mengadakan pelatihan-pelatihan yang tidak jelas.

Bagi yang tertarik dengan diskusi dan wacana tentang KAMMI, sangat dianjurkan untuk menjadi anggota KAMMI di Komisariat-Komisariat terdekat dengan mengikuti Daurah Marhalah. 

Maka dari itu, jika ada yang menyelenggarakan kegiatan yang mengatasnamakan Forum Diskusi KAMMI Kultural di kota anda, mohon bisa disampaikan kepada kami melalui alamat email forum.kultural@gmail.com. Mari berdiskusi secara sehat dan bernalar.

Terima Kasih,
Redaksi

Berlangganan