28 Agustus 2015

Muhammadiyah dan Kerja: Melampaui Sekat Primordial, Mencerahkan Bangsa

Oleh: Dharma Setyawan
Alumnus Pascasarjana UGM dan Dosen STAIN Metro Lampung
Suatu hari dalam sebuah sambutan Bung Karno berpidato,”dengan sedikit bitjara banjak bekerdja, Muhammadijah telah memodernisasi tjara mengembangkan Islam, sehingga di seluruh Tanah air Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke, telah berdiri tjabang-tjabang dan ranting-rantingnja. Selaku seorang jang pernah berketjimpung dalam lingkungan Muhammadijah, saja ingin berpesan kepada saudara-saudara, supaja selalu berpegang teguh kepada motto : ”banjak bekerdja”!.... Inilah sebabnja, Muhammadijah berkumandang dan menjadi besar.” (lihat Faozan Amar, 2009)

Jauh sebelum Presiden Jokowi mengumandangkan kata ‘kerja, kerja dan kerja’ untuk semua rakyat Indonesia, Bung Karno mendahului diktum “kerja” itu ke telinga warga Muhammadiyah. Sejak lahirnya --sejarah mencatat tanggal 18 November 1912 di Kauman Yogyakarta-- Muhammadiyah telah mentradisikan "kerja" dalam maknanya yang kolektif.  

16 Agustus 2015

[LAGU] Untukmu Pram





Cipt: Dharma Setyawan

Am Dm F E
Tajamnya penamu menusuk jantung kekuasaan 
Am Dm F E
Keriput kulitmu puas sedih dengan penindasan
Am Dm F E
Am Dm F E
Narasi cintamu untuk manusia dan Indonesia
Am Dm F E
Penjara buru menyiksamu penuh kekerasan
Chorus
F G C G
Kebebasan direnggut oleh kekuasaan 
F G C G
Dengan tulisan kau coba meraih keadilan


Reff
Am F G E
Sebuah lagu untukmu Pramoedya
Am F G E
Membuka mata kita bumi manusia 
Am F G E
Adil dalam fikiran dalam perbuatan
Am F G E
Menulis kebenaran lawan kekuasaan 


Melody 

Am F G E 2X
Reff
Reff 3x

26 Juli 2015

Transformasi Puasa untuk Kaum Mustad’afin


KATA PENGANTAR  
untuk Buku Ahmad Rizky M. Umar, Puasa dan Transformasi Sosial (Pustaka Saga, Surabaya, 2015)
 
“Ramadhan juga perlu menjadi sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat atas dirinya, serta pemenuhan hak-haknya yang gagal diberikan oleh sistem kapitalisme yang predatoris. Inilah relevansi Islam Transformatif untuk memberikan tawaran jawaban atas hal tersebut” 
(Ahmad Rizky Mardhatillah Umar)

Pertama kali mulai mengaji ilmu di Jogja 2011, saya bertemu dengan Umar (panggilan akrab penulis, ed.). Tidak banyak yang spesial dari kawan yang berasal dari Kalimantan Selatan ini , kecuali mungkin kesukannya terhadap musik melayu, tulisan, dan, terutama narasinya yang selalu hidup. Banyak tulisannya yang bertebaran di beberapa Jurnal dan media massa (online dan cetak, nasional dan lokal) yang memberi perspektif menarik, wa bil khusus dalam persoalan politik dan sosial. 

Bersama beliau, saya sempat terlibat menghidupkan Forum Diskusi Kultural (lihat www.kammikultural.org). Sebuah ikhtiar untuk membangun gagasan-gagasan transformatif di tubuh organisasi yang berusia 17 tahun, serta menjaga narasi sederhana untuk tidak terseret arus politik yang begitu hedonis. Usaha ini didukung oleh jaringan kawan-kawan di Jakarta, Lampung, Jogja, Solo, Malang, Surabaya, hingga di daerah lain yang berusaha menjaga nyala api gerakan mahasiswa Islam dengan cara yang sangat sederhana: menulis. Saya senang sekali ketika mendengar Umar akan melanjutkan studi pascasarjananya.

16 Juli 2015

Sajak Ironi


oleh: Saiful Islam Robbani
Anggota Biasa KAMMI Sosial Medik, Universitas Padjadjaran

Intelektual Profetik itu Ilusi
Toh, kau juga tak pernah mau mencoba mencicipi
Bahkan kadang menutup diri
Hingga akhirnya "logika" menjadi tak berarti lagi

Coba memahamkan, kau malah curigai
Tuduh aku penyakit, kiri, hingga barisan sakit hati
Tak apa, tak ada yg salah
Kau mengupayakan kebaikan
Pun juga aku mengusahakannya

Tapi, ingin kutegaskan
Ilmu itu membuatmu berlari 
Tak hanya puas dengan berjalan kaki
Atau malah nyaman dengan sebuah oligarki

Kau tau Gramsci? 
Ah, mungkin kau anti 
Beliau berujar banyak tentang hegemoni
Hanya takut, ketakutanmu itu jd sebab kau tak sadarkan diri
Bahwa jiwamu sedang terhegemoni

Ku sebut ini ironi
Konsep yg katanya menjadi cara pandang organisasi.
Malah kau nikmati sebatas pemanis oligarki.
Ilusi!

Akhirnya, semoga,
Dia tetap menjaga akal sehat kita,
dari setan setan bising penutup logika,
atau iblis iblis liar penghasut emosi,
sampai tuyul-tuyul anti ilmu yg merdeka.

Dan kusampaikan, 
Sajak ini bukan pembenaran diri.
Jangan juga kau anggap sebagai sebuah pledoi.
 
Sekali lagi,
Tak apa kau cap aku apa saja, tak peduli.
Hanya, kau mungkin lupa, 
"Profetik" ini penegasan tendensi.

Awal Mei, 2015. Di bawah keserakahan “Padjadjaran”.

4 Juli 2015

Menimbang Gerakan Berbasis Komunitas

Gading EA
Penulis buku "Menjaga Nafas Gerakan", Pegiat Pusat Studi Globalisasi dan Gerakan (PUSGLORA) Surabaya

“Mahasiswa ke mana?” Itulah pertanyaan yang terlontar dari beberapa kalangan terkait aktivitas pergerakan mahasiswa era sekarang yang dianggap tidak lagi mewadahi aspirasi masyarakat. Apakah dugaan bahwa pergerakan mahasiswa sedang lesu itu benar? Atau sebenarnya gerakan mahasiswa sedang bertransformasi ke bentuk yang lain? Jika memang telah bertransformasi, apakah itu akan menjadi pola gerakan baru yang bertahan dalam waktu panjang, atau hanya tren sesaat yang akan padam dalam waktu dekat?

Beberapa bulan belakang, Pusat Studi Globalisasi dan Gerakan (PUSGLORA) memiliki concern untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas. Selain melakukan diskusi secara internal, kami juga telah berdialog dengan beberapa pihak eksternal, baik bertemu secara langsung maupun via media sosial (chatting). Kesimpulan yang bisa kami ambil sejauh ini adalah, mulai maraknya gerakan-gerakan sosial berbasis komunitas yang mulai menggeser minat aktivis mahasiswa untuk berkiprah di organisasi formal–intra kampus maupun ekstra kampus.

2 Juli 2015

Setiap Hari adalah Ramadan, Setiap Malam adalah Lailatul Qadar

Ahmad Rizky M. Umar

Ramadhan adalah bulan pelatihan. Setidaknya, itulah yang sering dicerasa-dmahkan oleh para Khatib dan penceramah di berbagai Mesjid di Bulan Ramadhan ini. Rasulullah bersabda, man shaama Ramadhaana imaanan wahtisaban ghufiralahu maa taqaddama min dzanbihi. Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh perhitungan, diampuni oleh Allah dosa-dosa sebelumnya.

Maka, berlomba-lombalah kita untuk berpuasa di bulan Ramadhan, disertai dengan ibadah-ibadah yang menjadi ‘tradisi’ di bulan ini: tadarrus, i’tikaf, dan berbagai amal ibadah lain.

Tetapi bayangkanlah jika semua bulan adalah Ramadhan. Dan setiap malam adalah Lailatul Qadar. Mungkinkah kita beribadah?

Pertanyaan saya mungkin sedikit sufistik, tetapi memberikan sebuah refleksi: jika kita jadikan Ramadhan sebagai bulan untuk melatih diri, menahan diri dari segala macam hawa nafsu,mungkin ibadah kita tidak lagi dimaknai sebatas ritus. Karena setiap harinya adalah Ramadhan, dan setiap malamnya adalah Lailatul Qadar.

Berlangganan