24 Mei 2015

Dari Redaksi

Forum Diskusi KAMMI Kultural adalah forum yang diinisiasi oleh beberapa orang kader KAMMI (dan sekarang beberapa sudah menjadi alumni) sebagai wadah untuk mengembangkan nuansa intelektualitas di dunia gerakan. Forumnya cair, siapapun yang ingin berdiskusi bisa hadir dan ikut mendiskusikan tema-tema yang dibahas/menulis. 

Oleh sebab itu, Forum Diskusi KAMMI Kultural tidak pernah menyelenggarakan Training/Daurah/Pelatihan dalam bentuk apapun. Semua aktivitas mengenai kami bisa dibaca di website ini.  Kami tetap berpijak pada nalar intelektual profetik yang diusung oleh KAMMI dan tidak berminat untuk mengadakan pelatihan-pelatihan yang tidak jelas.

Bagi yang tertarik dengan diskusi dan wacana tentang KAMMI, sangat dianjurkan untuk menjadi anggota KAMMI di Komisariat-Komisariat terdekat dengan mengikuti Daurah Marhalah. 

Maka dari itu, jika ada yang menyelenggarakan kegiatan yang mengatasnamakan Forum Diskusi KAMMI Kultural di kota anda, mohon bisa disampaikan kepada kami melalui alamat email forum.kultural@gmail.com. Mari berdiskusi secara sehat dan bernalar.

Terima Kasih,
Redaksi

23 Mei 2015

[ULASAN BUKU] Jalan-Jalan Bersilang: Islamisasi Nusantara dan Keruntuhan Majapahit

Judul Buku: "Genealogi Keruntuhan Majapahit (Islam, Toleransi, dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali)"

Penulis: Dr. Nengah Bawa Atmadja
Jumlah Halaman: xxxiii+530 halaman
Cetakan: Pertama, Desember 2010
Penerbit: Pustaka Pelajar
 

Peresensi: Kuncoro Probojati *)

MAJAPAHIT yang merupakan ikon puncak peradaban Hindu-Jawa. Sejarah mencatat bahwa setelah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, yang dikenal sebagai salah satu kerajaan yang mampu mempersatukan nusantara, kerajaan ini perlahan namun pasti mengalami kemunduran dan akhirnya musnah pada abad ke-15. Bersamaan dengan itu pulan, terjadi proses islamisasi di Jawa hingga munculnya kerajaan Islam, yaitu Demak yang menjadi kerajaan besar menggantikan Majapahit (hlm 1). 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertanyaan ini menjadi salah satu alasan lahirnya buku berjudul “Genealogi Keruntuhan Majapahit (Islamisasi, Toleransi dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali)”. Buku ini ditulis Nengah Bawa Atmadja, seorang Antropolog Bali di Universitas Udayana. Ditulis dengan menggunakan kerangka Genealogi Foucauldian, buku ini melacak sejarah Bali dari keruntuhan Majapahit, bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam, dan dipertahankannya agama Hindu di pulau tersebut.

21 Mei 2015

Rohingya dan Kekeliruan Cara Pandang Kita Soal Identitas

oleh: Ahmad Rizky M. Umar
Editor Jurnal Kultural

Pada tanggal 21 Mei 2015, laman Selasar.com dan Mata Garuda menerbitkan satu infografis menarik: "Kontribusi Sang Naga bagi Indonesia". Infografis sederhana tersebut memetakan kontribusi-kontribusi positif warga keturunan Tionghoa bagi kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia, sekaligus membantah sebuah stigma, bahwa mereka adalah Liyan bagi kemerdekaan Indonesia.

courtesy of selasar.com
Saya ingin merefleksikan infografis tersebut dengan cara pandang yang sedikit berbeda. Selama ini, cara kita memandang orang-orang keturunan lebih banyak dipenuhi stigma --memandang apa yang nampak sebagai kebenaran yang menyeluruh. Sesuatu yang kemudian, dalam kasus lain, terbukti bisa sangat berbahaya.

Setidaknya cerita yang saat ini hangat di pesisir Sumatera dan beberapa negara lain di Asia Tenggara mencerminkan hal tersebut. Sejak pekan lalu, dunia tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya gelombang pengungsi Rohingya di beberapa negara Asia Tenggara. Mereka sejak bertahun-tahun silam sudah mencari perlindungan ke beberapa negara dan dikabarkan ingin kembali. 

25 April 2015

Keberagaman adalah Aset! Lima Catatan tentang Alur Gerakan KAMMI


oleh: Muhammad Sadli
Aktivis KAMMI Ternate, Maluku Utara 
KAMMI dalam Garis Besar Haluan Organisasi, menuliskan dalam Karakter Organisasi, KAMMI adalah organisasi pengkaderan (harokatut tajnid) dan organisasi pergerakan (harokatul amal). Bahkan mungkin KAMMI dengan segala karakter kadernya, ‘segelintir kader’ lebih menempatkan sebagai harokatut tajnid yang berbaur ke dalam harokatul amal. Atau organisasi pengkaderan yang harusnya tertampak sebagai organisasi pergerakan.
Umumnya organisasi mahasiswa atau organisasi kepemudaan identik dengan gerakan mahasiswa. Dan ini pula yang paling diminati oleh mahasiswa, bentuk gerakan mahasiswa seperti aksi-aksi demonstrasi atau yang sejenisnya (defenisi secara sempit). Pertanyaan mendasarnya adalah bolehkah ada mahasiswa yang tidak tertarik dengan aksi-aksi demonstrasi terlibat dalam KAMMI? Atau sebaliknya bagaimana KAMMI menampung orang-orang yang tidak terlalu tertarik dengan aksi-aksi demonstrasi?


Menjadi Tjokro, Menjadi Guru untuk Semua

oleh: Ahmad Rizky M. Umar
Editor Jurnal KAMMI Kultural 

Apa artinya menonton film Tjokroaminoto, di masa ketika semua orang menjadi sensitif  dengan harakah atau perkumpulan lain?

Banyak catatan tentang film Tjokroaminoto yang baru-baru ini diangkat oleh sineas Garin Nugroho.Saya tidak ingin menggarami air laut dengan menambahkan catatan atas film ini. Tapi, ada sedikit hal yang mengusik saya tentang Tjokro, sisi yang sering terlupakan: sisi Tjokro sebagai seorang 'murabbi'.
courtesy of citraindonesia.com

Bagi saya, pesan yang ditampilkan Tjokroaminoto sebetulnya sederhana: semua orang adalah murid, dan semua tempat adalah pembelajaran. Mungkin hal ini sudah sering disebut-sebut, tapi menarik untuk diulang kembali: ada tiga orang murid Tjokro yang di kemudian hari berselisih jalan. Namanya Soekarno, Semaun, dan Kartosoewirjo.

Ini menarik. Ketiganya berjalan di atas garis ideologi yang kemudian saling berhadapan setelah kemerdekaan: nasionalis, komunis, dan Islamis. Tjokro-lah yang memberikan dasar bagi mereka dalam membangun dan mengembangkan garis ideologinya.

23 April 2015

KAMMI, Muslim dan Demokrasi: Refleksi 17 Tahun KAMMI

Oleh:  Dharma Setyawan
Direktur Sai Wawai Institute

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) telah berusia 17 Tahun. Perjalanan usia yang bisa dikatakan romantik dalam gerakan. Lahir 29 Maret 1988 dalam suasana politik yang sangat mendidih menuju orde reformasi. Berawal dari semangat gerakan masjid dan kampus (Andi Rahmat & M Najib, 2007), KAMMI memantapkan diri sebagai bagian rakyat dan bergerak bersama rakyat di lingkar gerakan ekstra-kampus. 

Sebagai sebuah kesungguhan tekad, gerakan KAMMI memberi mimpi segar bagi anak-anak muda pasca-Soeharto untuk memantapkan gerakan mahasiswa dalam semangat reformasi total. Sebagai gerakan ‘Muslim Negarawan’, KAMMI menarasikan paradigma gerakannya sebagai gerakan Tauhid, Intelektual Profetik, Sosial Independent dan Ekstra-parlementer. Paradigma ini menuntut konsistensi KAMMI dalam perjalanannya. Menyandang diri sebagai gerakan Islam, KAMMI acapkali menuai kritik—misal soal independensi—yang jelas menjadi basis gerakan yang dipertaruhkan dimuka publik.

Berlangganan